[Motivasi] Jadilah Dirimu Sendiri

[Motivasi] Jadilah Dirimu Sendiri

Pernah dengar yang namanya “Pendawa Lima” atau orang Jawa biasa menyebut “Pendowo Limo”.

Bagi yang tahu banyak maupun sedikit soal wayang , pasti tahu (agak maksa nich), dan bagi yang kurang begitu tahu soal wayang pasti pernah dengar, semisal di album DEWA 19 jamannya Wong Aksan (Aksan Syuman) sebagai drummer.

Kata “lima” di belakangnya sebenarnya cuma penegas, karena sebenarnya “pendawa” itu berarti “anak lima lelaki semua” , jadi pasti jumlahnya lima.

Seperti juga “Sendang Kapit Pancuran” (indonesianya = sendang yang di apit oleh pancuran) berarti anaknya tiga yang nomer dua perempuan (sendang/lingga) dan yang mengapit lelaki (pancuran/yoni).

Kembali ke Pendawa Lima, walaupun saya tidak akan membahas wayang itu sendiri, tapi kata itu mempunyai makna yang sangat dalam bagi diriku, dimana makna yang terkandung didalamnya sangat erat dengan diri kita sendiri, dan kenapa harus “Pendawa Lima” yang menjadi tokoh sentral dari cerita Mahabarata itu sendiri, dan mengapa “Kurawa Seratus” yang menjadi musuh utamanya….

Cerita wayang yang sudah melegenda ribuan tahun ini tidak asal dibikin dinegeri asalnya, India. Saya juga yakin ketika Sunan Kalijaga sedikit berimprovisasi (disesuaikan budaya Jawa) juga penuh kehati – hatian dengan makna yang terkandung didalamnya. Cerita yang kudapat, kata empunya cerita, itu juga berasal dari Sunan Kalijaga waktu beliau membedah hakikat hidup itu sendiri, dimana sang sunan dalam masa mudanya pernah menjadi seorang “Brandal” (tokoh perampok) dengan gelar Brandal Lokajaya, sebelum akhirnya dibimbing oleh Sunan Bonang.

Pendawa lima,

Tokoh didalamnya adalah lima bersaudara putra dari Prabu Pandu Dewanata dengan Dewi Kunti & Dewi Madrim.

Yang terbuang dari tahtanya, menderita, berjuang kembali mendapat tahtanya dalam perang besar “Barata Yudha” dengan melawan saudara sendiri Kurawa Seratus.
Dari kelimanya mempunyai sifat/karakter sendiri – sendiri, yang mungkin kita anggap biasa – biasa saja. Tapi ternyata, seperti saya bilang diawal, semua itu ada makna yang terkandung didalamnya.

 

Pendawa lima adalah penggambaran dari Manusia itu sendiri, diri kita sendiri, coba kita ulas :

 

  1. Puntadewa tertua pendawa, diceritakan sebagai orang jujur dan pintar, itu identik dengan mulut dan kepala manusia itu sendiri, dimana letak dari pintar berpusat di kepala itu sendiri, dan kata -kata di mulut.
  2. Bima, kedua dari pendawa, berbadan raksasa, selalu berdiri tegak, lurus dan kokoh, walaupun di “paseban” (pertemuan dengan raja dan para pembesar) sekalipun, itu diibaratkan sebagai badan (dada/punggung.red), yang dimana akan lurus tanpa bisa ditekuk…(khan ngga ada kata – kata, menekuk dada, yang ada khan mengelus dada)

 

  1. Arjuna, penengah pendawa, diceritakan dalam wayang dia beristri 999 cuman gagal sekali dalam kisah “Palguna dan Palgunadi”, menggambarkan nafsu kejantanan dari lelaki.

 

  1. Terakhir adalah si kembar, Nakula dan Sadewa. Selain dari kepala, mulut, badan dan kemaluan, semua bagian manusia normal selalu dua (kembar) (e.g. kaki,tangan,telinga,mata,etc)Jadi bisa dikatakan bahwa, Pendawa Lima adalah hakikat manusia (lelaki) itu sendiri (secara badani), dimana mereka satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan satu sama lain, jadi harus sinkron, tidak boleh bertentangan.

Pada ceritanya, disaat perang “Barata Yudha”, Pendawa Lima mengalami tekanan dari orang terdekat mereka, dan karena kemulian mereka “Sri Kresna” harus memberi wejangan kepada mereka tentang darma seorang satria akan kebenaran. (diceritakan dalam kidung “Bhagawagita”).

Lawan mereka adalah :

  1. Kurawa seratus, yang merupakan saudara sepupu mereka sendiri, yang pada hakikatnya angka “seratus” adalah penggambaran dari banyaknya godaan – godaan duniawi itu sendiri, diceritakan kurawa adalah kumpulan orang – orang dengan variasi kesesatan.Ini bisa di atasi oleh mereka, setelah mental mereka terbentuk lewat kidung “Bhagawagita” yang diceritakan oleh Sri Kresna
  2. Karna, kakak Pendawa lain ayah, (salah satu tokoh wayang yang saya kagumi). Dialah lawan terberat Pendawa, setelah kakek Bisma, tidak hanya kesaktiannya, tapi yang lebih penting disini, Karna adalah citra(gambaran) dari Pendawa itu sendiri, melawan Karna adalah melawan diri sendiri.

Dan, disaat kebingungan itu munculah pahlawan besar, putra Bima dengan Arimbi, satria gagah perkasa, otot kawat, tulang besi dan mampu terbang ke angkasa dengan kotang Ontokusumonya, dia adalah Gatotkaca (orang jawa bilang Gatotkoco). Di saat pendawa, khususnya Arjuna sangat gelisah ketika akan menghadapi Karna, maka Sri Kresna segera mengutus Gatotkaca untuk melawannya, akaibatnya Gatotkaca gugur di tangan Karna, tapi setelah itu, Karna menjadi tidak berdaya tanpa Kunta-wijayadanu yang telah lenyap diperut gatotkaca.

Setelah gugurnya Karna, jalan Pendawa meraih kemenangan semakin lapang.

Summary :

Cerita itu mungkin banyak yang pernah mendengarnya, tapi banyak yang dari kita tidak sadar bahwa banyak hikmah dari cerita itu. Pengembaraanku di hutan – hutan Sumatera (Riau – Jambi – Palembang) telah banyak memberi kesempatan untuk mengkajinya dalam keheningan.

 

  1. Pendawa Lima : adalah diri kita sendiri, secara badani maupun rohani

 

  1. Kurawa seratus : Dia adalah saudara sepupu Pendawa, dibesarkan bersama dan tumbuh bersama, mempunyai sifat – sifat kesesatan. Jumlahnya yang seratus adalah wujud dari hawa nafsu kita yang sedemikian banyaknya, dimana itu tidak bisa kita hilangkan karena, nafsu itu lahir, dan tumbuh kembang bersama kita.

 

  1. Baratayudha : Adalah perang (besar) saudara antar darah barata, Pendawa melawan Kurawa. Perang ini harus terjadi karena tidak akan ada yang bisa mencegah, dan baru berakhir dalam kematian. Ini artinya adalah perang pada diri kita melawan hawa nafsu kita sendiri.

 

  1. Sri Kresna : Tokoh yang selalu mendampingi Pendawa (tanpa ikut berperang). Dia adalah wujud dari Hati Nurani, yang selalu mengingatkan kita akan kebaikan, ketika kita dibimbangkan oleh hawa nafsu. Di perang Baratayudha, Kurawa tidak memperbolehkan Kresna ikut berperang, karena Kresna pasti menang. Demikian juga dengan kenyataannya, hati nurani pasti akan mengalahkan hawa nafsu.

 

  1. Bhagawatgita : Sebuah kidung/kitab, disaat Pendawa (kita) sedang gelisah untuk menghadapi Kurawa (Nafsu), Kresna (Hati nurani) mengingatkan kita untuk bersandar pada Bhagawatgita, yang bisa kita artikan adalah sebuah kitab suci. Memberi perintah pada kita untuk membaca apapun kitab suci kita, entah Tripitaka, Wedhatama, Injil, Taurat, Al Quran, bila sedang gelisah/ bimbang diantara kebenaran dan kebatilan.

 

  1. Karna : Adalah bayang – bayang ketakutan diri kita sendiri dalam menghadapi hidup, ketakutan yang terbesar dari kita seringnya adalah bayangan – bayangan menakutkan yang sebenarnya kita ciptakan sendiri.

Dari itu semua, tokoh Gatotkaca, adalah tokoh sentral dari semua itu.

 

Ketika diri kita (Pendawa) dalam kondisi klimak untuk menentukan siapa pemenang perang Baratayudha (perang hawa nafsu), ditambah lawannya adalah bayang-bayang ketakutan diri sendiri (Karna), maka Kresna (hati nurani) mengutus Gatotkaca untuk mengatasinya, dan berhasil, sehingga Pendawa memenangkan perang tersebut.
Gatotkaca / Gatotkoco —> kalau dipisah menjadi Gatot & Koco, atau dalam bahasa jawa : “Gatokno karo Koco”, Hadapkan dengan Kaca –> bahsa indonesianya.

Kalau Pendawa itu diri kita sendiri, dan ketika mengadapi segala kegelisahan/kesukaran hidup, maka pahlawan diri kita sendiri adalah “Gatotkoco”, atau Hadapkan dengan Kaca, siapa berdiri didepan kita bila kita hadapkan ke kaca , ..ya diri kita sendiri.

 

Jadi ketika kita dalam kebimbangan/kesusahan jangan lari kemana-kemana, karena pahlawan diri kita adalah diri kita sendiri So, be yourself, Jadilah dirimu sendiri, ketika engkau akan melangkah kemanapun, jangan banyak mendengarkan orang lain, karena ini hidupmu, dirimu adalah guru terbaik bagi dirimu.

Lahir ke dunia beberapa puluh tahun yang lalu dan sedang menempuh ilmu pengetahuan di salah satu kampus IT di Indonesia ^^ gemar mempelajari pengetahuan tentang IT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *